Manusia Adalah Makhluk Pembelajar

Sob sadar gak sih kalau kita tuh lahir dengan kondisi skill dan kemampuan yang sama looh!, iya betul, kita lihat saja bayi ketika lahir mereka sebagian besar bayi itu nangis loh sob, dan jika kita tau ada bayi yang ketika lahir dia tidak menangis, betapa paniknya tuh orang tua bayi tersebut.

Tidak hanya urusan nangis loh sob, kita lihat contoh lain yuk, anak bayi cara komunikasi dia pun belum memahami apa-apa yang di ucapkan orang sekitarnya, yang dia paham hanya sebatas minum susu atau asi dari ibunya.

Loh ini judulnya apa kok jadi bahas bayi siih. Hehe…

Yuk kita kembali kepada permasalahan, apapun yang terjadi seiring berjalanya umur seorang anak, maka anak akan menilai dan memasukkan data kedalam otaknya tentang lingkungan sekitar, dan apapun yang dia lihat, dia dengar dan dia rasa.

Dan mari kita contohkan, ketika seorang anak balita dia melihat orang tuanya selalu melakukan sholat dirumahnya dan anak itu akan suka dan bahkan ingin melakukan sholat karena sering melihat apa yang dilakukan orang tuanya, dan secara otomatis anak ini sedang belajar.

Lalu ketika anak sering mendengarkan orang tuanya mengatakan suatu kata baik itu kata-kata yang kurang baik, seperti beg*, g*bl**, atau kata lainya, atau kata-kata baik seperti istighfar, takbir, dan lain-lain. Seketika anak akan mengikuti hal ini ketika anak itu berbicara atau keseharianya. Dan inilah proses belajar yang dilakukan oleh anak.

Tidak hanya belajar dari apa yang dilihat dan di dengar, ada satu hal lagi yang tanpa sadar sering kali diikuti oleh anak. Yaitu, gerakan tubuh ekspresi cara duduk cara tidur dan masih banyak lagi yang bisa ditiru dari gerakan yang dilakukan oleh orang sekitar.

Dan tidak hanya anak yang meniru dari segi visual, auditori, dan kinestetik. Orang dewasa juga terus menjadi makhluk pembelajar looh!.

Kita contohkan saja, di salah satu jalan di tengah kota Jakarta, disana ada putaran balik yang tertulis jelas tanda larangan untuk berputar balik, namun entah kenapa ada beberapa sepeda motor yang memaksa berputar balik untuk melanggar, lalu tidak terjadi sesuatu tindakan oleh apparat, maka secara otomatis orang sekitar akan melihat dan bahkan menirunya untuk dilanggar sehingga jadilah sebuah pembenaran hal yang salah.

Nah sekarang kita mulai mengerti, bahwa sebenarnya manusia itu selalu merekam segala sesuatu yang terjadi disekitarnya jika dia menggunakan panca indra dengan baik. Dan kita harus mampu memilih sikap kita agar orang lain pun bisa belajar hal yang baik dari kita. Lalu sekarang kita harus bisa memilah dan memilih segala informasi yang akan masuk kedalam pikiran kita agar kehidupan kita bisa lebih baik dan lebih bahagia dalam menyikapi segala kondisi.



Tinggalkan Balasan