Kita yang Memilih Respon

“Sob tanggung jawab dong”, dengan nada tinggi yang terdengar seolah emosi memuncak, kata si bedul (nama samaran). “looh kan bukan salah saya, karena kondisinya sudah seperti itu”, si ahmed mengelak atas tuduhan temanya dalam sebuah kejadian yang bermasalah yang mereka alami.
Saya tahu mungkin saja ada sebagian dari anda yang selalu merasa bukan anda yang bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi pada anda. Mari kita contohkan yang sering terjadi ketika kita berada ditengah kemacetan di kota besar, sebut saja Jakarta. Ingatkah ketika kita berada dalam kemacetan itu, sering kali kita meresponya dengan tidak positif terhadap kejadian itu, dan salah satu respon yang sering muncul seperti, waah tidak ada petugas yang mengatur atau ini efek pemprov setempat tidak bisa mengatur dengan baik, dan lain sebagainya.
Apakah kita bisa mengatasi kemacetan yang dahsyat itu? ya jelas tidak wong petugas yang ditugaskan aja belum mampu mengoordinasikan kemacetan dengan baik, apalagi kita? hehe. lalu hal apa yang paling bisa kita lakukan ketika dihadapkan pada kemacetan? dan hal apa yang paling bisa kita upayakan? Yang sering saya lakukan ketika dihadapkan dengan hal seperti ini adalah, saya akan memilih respon yang positif tanpa menyalahkan pihak lain. Seperti contoh saya sering merespon; waah mumpung macet baiknya saya tenangkan dengan mendengar musik, atau membaca buku, dan lain sebagainya, atau saya sering berkata “waah saya salah pilih jalan, harusnya tidak lewat sini,” dan lain sebagainya.
apapun yang dialami kitalah yang memilih respon itu, kenapa begitu? iya karena pikiran kita yang memberi respon atas sesuatu yang kita alami. Saya tidak tahu apakah anda menyadari bahwa walaupun demikian kitalah yang bertanggung jawab dalam memilih cara menanggapinya.
Sekarang anda tahu bahwa andalah yang memilih respon terhadap segala sesuatu dan anda sangat mudah untuk mengarahkan kearah respon yang positif.


Tinggalkan Balasan