Cara Vs Hasil

Petani mana yang tidak mengingkan panen padi yang berlimpah setelah kurang lebih 95 hari mereka bersusah payah merawat dan menjaga padi-padinya? Mereka aliri sawah dan menghalau burung pipit yang akan memakan bulir padi. Tidak hanya itu, teriknya matahari pagi, siang ataupun sore kerap membakar raganya. Sedangkan bergumul dengan lumpur menjadi kebiasaan mereka.

Ya….pasti semua petani mengingakan padinya tumbuh dengan baik. Memanen saat padi telah dinyatakan berumur, bulir padi yang menguning dan keras berisi. Apalagi pertiwi kita yang sering disebut gemah ripah loh jinawi (tentram dan makmur serta subur tanahnya).

Namun, pernahkah kita melihat walau petani sudah bersusah payah merawat padinya, mengairi dengan baik, memberi pupuk dengan tepat, menjaganya dari burung-burung perusak, namun gagal panen? Tentu, pernah bahkan sering. Lantas apakah mereka berhenti untuk menanam padi? Jika iya setiap petani yang gagal panen berhenti untuk menanam padi itu berhenti, pastilah kita tidak akan bisa menikmati nasi dari padi-padi lokal. Dan jawaban dari petani itu tidak akan berhenti!.
Mereka masih bertani dengan terus memperbaiki cara mereka dalam bertani walaupun mereka tidak tau bagaimana hasil panennya nanti.

Sama seperti semua yang kita lakukan di dunia, baik hubungan kita dengan sang pencipta, dengan sesama ataupun dengan alam, kita akan memanennya. Lakukanlah yang baik-baik walau tak akan pernah ada jaminan hasil yang kita petik akan baik pula namun setidaknya menjaga hati kita terlindung dengan baik.

“Cara yang baik memang tidak menjamin hasil baik pula, tetapi yakinlah cara yang baik akan melindungi hati tetap terjaga dengan baik”



Tinggalkan Balasan